Pembiasaan Untuk Menumbuhkan Karakter ( Di Madrasah ~ 2)

Pembiasaan diawal pelajaran di madrasah tempat dulu saya mengajar sudah saya paparkan dalam tulisan sebelum ini. Tidak hanya itu, pembiasaan untuk menumbuhkan karakter terutama karakter religius pun dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai.

Pukul 12.10 WIB, kegiatan belajar di kelas sudah selesai. Waktu sholat duhur pun sudah terlewat beberapa menit. Madrasah kami terletak satu komplek dengan masjid. Semua siswa sudah keluar kelas untuk mengambil air wudlu guna menunaikan sholat duhur berjamaah.

Sholat duhur yang dilaksanakan para siswa dan guru, memang tidak bersamaan dengan warga yang juga menggunakan masjid tersebut. Agar pelaksanaan kegiatan sholat siswa bisa kondusif.

Setelah melaksanakan sholat duhur, kegiatan pembiasaan terakhir yang dilaksanakan di madrasah adalah mengaji bersama sesuai kelas masing-masing yang dipandu oleh guru kelas. Pelaksanaan mengaji juga dilakukan di masjid.

Mengaji kali ini bukan membaca surat pendek seperti yang telah dilaksanakan di pembiasaan pagi hari. Namun para siswa sudah dibelajari membaca Al Quran. Mengambil satu surat tertentu selain juz 30. Guru membimbing dengan membacakan terlebih dahulu ayat yang akan dipelajari. Dijelaskan juga mengenai tajwidnya. Untuk kelas 5 dan 6, juga dibahas mengenai makna dari ayat tersebut. Kemudian siswa menirukan bacaan secara bersama-sama. Kemudian dilanjutkan membaca satu per satu.

Kegiatan sholat duhur berjamaah dan mengaji ini dilakukan untuk kelas 3, 4, 5, dan 6. Karena kelas 1 dan 2 menyelesaikan kegiatan di kelas hingga pukul 11.00 WIB.

Madrasah memiliki visi yang didalamnya memuat untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa. Visi tersebut didukung dengan misi-misi yang sejalan, diantara misi untuk mewujudkan visi tersebut adalah melakukan pembiasaan-pembiasaan untuk menanamkan karakter religious kepada para siswa.

Banyaknya kegiatan pembiasaan yang dilakukan di madrasah kami, secara tidak langsung juga memberikan nilai positif di mata masyarakat. Animo masyarakat untuk memasukkan anak-anak mereka bersekolah di madrasah pun meningkat. Madrasah harus bisa bersaing secara sehat dan secara kualitas. Karena di desa saya, terdapat 4 sekolah tingkat dasar. 2 madrasah, 1 sekolah dasar swasta, dan 1 sekolah dasar negeri. Meningkatkan kualitas walaupun dari salah satu sisi melalui pembiasaan, sudah dapat memberikan nilai tambah tersendiri bagi madrasah kami.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 17 Februari 2021

 

Pembiasaan Untuk Menumbuhkan Karakter ( Di Madrasah ~ 1)

Sebagai upaya meningkatkan pendidikan karakter, madrasah menerapkan banyak pembiasaan hingga saat ini. Mencetak sebuah karakter akan lebih mudah dilakukan sejak kecil, karena usia anak merupakan tahap dengan rekam ingatan yang sangat kuat juga dengan kondisi kepribadian yang belum matang. Jadi pola pembiasaan yang diterapkan diharapkan dapat melekat kuat dan terbawa hingga dewasa.

Madrasah melakukan pembiasaan sholat duhah sebelum masuk kelas. Sholat duhah berjamaah dilakukan pukul 06.30 WIB. Siswa berwudlu kemudian melakukan sholat yang diimami kepala madrasah. Guru-guru juga mengikuti. Pelaksanaan pembiasaan ini dilakukan dengan tujuan agar anak-anak terbiasa melakukan sholat duhah tidak hanya saat mereka masih bersekolah di madrasah, tetapi dapat istiqomah dilaksanakan hingga kelak nanti.  

Sebagai sekolah berbasis agama dan sebagai muslim, tentunya sudah kita ketahui keutamaan sholat duhah. Dengan niat ibadah lillahi ta’ala, mengharap terlimpah manfaat dari sholat duhah diantaranya :

1.      Dibuatkan istana di surga

2.      Diampuni dosa-dosa

3.      Mencegah penyakit

4.      Pembuka pintu rezeki

5.      Diijabah doa-doa karena termasuk waktu terbaik berdoa

6.      Dapat pahala setara ibadah umroh

7.      Sedekah untuk seluruh tubuh

Alhamdulillah, kegiatan pembiasaan ini sudah dilaksanakan madrasah tempat saya mengajar dulu dari tahun 2006 hingga sekarang (sebelum pandemi yang mengharuskan belajar dari rumah).

Namun walaupun pembelajaran sekarang dilaksanakan dari rumah, namun setiap hari anak-anak saya yang juga sekolah di madrasah tersebut selalu diingatkan guru nya untuk melaksanakan sholat duhah. Dengan sesekali mengirimkan bukti video atau foto, kami orang tua juga mendukung penuh pembiasaan tersebut.

Kembali lagi ke pembiasaan yang sudah dilaksanakan di madrasah, setelah kegiatan sholat duhah, siswa berbaris di depan kelas masing-masing. Guru kelas memimpin didepan barisan siswa. Terpusat dari kantor, secara bersama mengucapkan Pancasila, syahadat, doa masuk kelas, doa kedua orang tua, dan satu surat pendek.

Pembacaan Pancasila dilakukan agar anak-anak minimal hafal dan untuk pengamalannya dapat diperdalam melalui bimbingan guru di kelas.

Pembacaan serangkaian doa-doa dilakukan dengan tujuan agar anak-anak dapat istiqomah mendoakan kedua orangtuanya. Karena salah satu amalan yang tidak terputus adalah doa anak sholih/sholihah.

Setelah serangkaian kegiatan diluar kelas dilaksanakan, siswa masuk dan membaca surat Yasin bersama yang dipimpin salah satu siswa yang ditunjuk bergantian di ruang guru. Pun demikian, pembacaan surat Yasin diterapkan di madrasah mengharap terlimpah manfaat dari surat yasin diantaranya :

1.      Diampuni dosa-dosa oleh Allah SWT

2.      Mempermudah segala urusan

3.      Mendapat ketenangan hati

4.      Terhindar dari siksa kubur

5.      Mempermudah sakaratul maut

Wallahu a’lam bisshowwab

Memang, pembiasaan untuk meningkatkan karakter religious di madrasah lebih cenderung ditekankan. Selain memang sebagai sekolah berbasis agama, juga karena dengan tertanamnya landasan agama pada anak sejak dini, ibarat melukis diatas batu, maka diharapkan anak memiliki pondasi kuat tentang akhlak yang nantinya dapat digunakan sebagai benteng diri dalam berkehidupan di lingkungan yang lebih luas. Diharapkan anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang tidak baik.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 16 Februari 2021

Mengasa Kompetensi Profesional

Salah satu upaya yang saya lakukan untuk mengembangkan kompetensi professional saya dari awal saya terjun di keguruan adalah dengan bersekolah lagi di jurusan yang linier dengan apa yang saya geluti. PGSD saya pilih sebagai penunjang keprofesian saya. Banyak ilmu baru tentang keguruan yang saya pelajari dan dapat saya terapkan dalam kelas yang saya isi.

Disamping itu, saya yang juga pernah mengambil jurusan system informasi. Berbekal keilmuan tersebut, saya aplikasikan dalam pembelajaran yang berbasis teknologi informasi. Misalnya dengan membuat media pembelajaran menggunakan video, power point, pengolahan nilai dan database dengan Ms. Excel, serta berbagai aplikasi yang saya kuasai.

Dulu, di lingkup madrasah kurang diadakan kegiatan pengembangan keprofesian seperti kelompok kerja gugus. Berkaca dari sekolah dasar yang sering mengadakan kegiatan gugus, saya pun mengajukan kepada kepala madrasah untuk disampaikan ke kelompok kerja kepala madrasah agar diadakan kegiatan keprofesian gugus secara berkala. Alhamdulillah, kurang lebih satu tahun apa yang saya sampaikan tersebut terrealisasi.

Di kecamatan saya mulai diadakan kegiatan gugus yang dilaksanakan secara rutin tiap bulan, dan sampai saat ini pun masih terus berjalan. Kegiatan tersebut berisi tentang bagaimana menyusun RPP, mengembangkan silabus, membuat media pembelajaran, dan lain sebagainya. Saya merasa banyak ilmu yang dapat saya kembangkan. Selain bisa sharing dengan sesama teman guru, kita juga dapat tambahan materi dari narasumber yang juga didatangkan dalam waktu-waktu tertentu.

Untuk saat ini, berbagai kegiatan webinar mandiri saya ikuti. Pertama, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Kedua, tantangan tugas on the job learning-nya yang membuat saya tertantang untuk menyelesaikannya. Jadi ketika gugus sekolah mengadakan sosialisasi materi baru, kebanyakan saya sudah mengikutinya, sehingga saya tinggal meningkatkan pemahaman saya akan materi tersebut.

Pada masa pembelajaran jarak jauh saat ini, kita dituntut untuk mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut akan selalu saya ikuti untuk dapat mengimbangi perkembangan dunia pendidikan.

Kita sebagai guru, jangan sampai dikalahkan dengan teknologi. Kita harus dapat mengimbangi kemajuan teknologi. Ayo, jadi guru pembelajar.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 15 Februari 2021

Mengasa Kompetensi Kepribadian (Guru)

Pengalaman menghadapi berbagai karakteristik siswa serta rekan guru lainnya juga membuat saya banyak belajar. Mungkin ini yang dinamakan pengembangan kepribadian seorang guru. Awal saya terjun sebagai guru, seperti yang saya paparkan dalam tulisan saya pertama kali, saya sering emosi jika ada siswa yang tidak patuh dengan apa yang saya perintahkan. Siswa harus tenang ketika guru menjelaskan. Omongan rekan yang kurang enak selalu saya ambil hati, serta sikap-sikap saya yang saya sendiri suka tertawa jika mengingatnya.

Dari hal-hal tersebut diatas, juga dengan mempelajari berbagai model pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, teknik pembelajaran, saya pun mulai belajar memahami. Apakah sikap peserta didik saya yang ramai dikelas, kurang memperhatikan, serta sikap lain yang menurut saya kurang, mungkin disebabkan karena saya yang salah dalam menerapkan strategi pembelajaran serta hal-hal lain yang terkait tentang pembelajaran. Hingga dari waktu ke waktu saya mulai berbenah.

Saya mencoba lebih memahami kebutuhan peserta didik. Tentang ketertarikan mereka serta mencoba lebih luwes ketika dikelas misalnya dengan melakukan permainan sedrahan, tebak kata, tebak hasil. Saya memberikan reward kecil, misalnya penghapus bagi yang bisa menjawab perkalian tertentu, saya berikan pensil bagi yang menjawab pertanyaan tertentu, serta hal-hal kecil namun membuat siswa senang.

Disatu waktu, saya dan para siswa juga saling mnednegar pendapat dan keluh kesah serta saran dari mereka, apa yang kurang dari cara saya mengajar, apa yang kurang mereka sukai dari cara mengajar, dan sebaginya tentang uneg-uneg yang ada. Saya juga mengadakan perjanjian kelas, misalnya memberikan waktu istirahat 5 menit dikelas setelah dua jam pembelajaran, pengurangan poin bagi siswa yang jail ketika pembelajaran, serta kesepakatan-kesepakatan lain yang telah kami diskusikan di kelas.

Ternyata, perubahan sikap yang saya lakukan memberikan dampak besar bagi mereka. Anak-naka lebih terbuka, lebih berani mengajukan pertanyaan, mengkritik jika saya salah. Kedekatan-kedekatan seperti ini yang membuat siswa nyaman dengan guru.

Selain itu, saya mencoba memahami jika ada omongan rekan kerja yang menurut saya kurang enak. Saya mencoba introspeksi diri, apakh mungkin hal tersebut karena sikap saya yang salah. Saya pun tidak serta merta menelan informasi kurang baik tentang saya yang disampaikan teman-teman. Jika memang karena keslahan saya, maka saya akan memperbaiki kekurangan saya dan minta maaf. Namun apabila itu hanya praduga, saya akan klarifikasi dengan yang membicarakan secara baik-baik.

Suami saya selalu mengingatkan saya jika disetiap tempat kerja selalu ada gesekan-gesekan, itu wajar, ihlaskan saja, jika kita tidak melakukan apa yang diucapkan, jika saya tidak mendapat hak yang seharusnya saya dapat, insyaallah jika ihlas dan legowo, Allah akan mengganti dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Ya, hal tersebut yang selalu saya pegang.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 14 Februari 2021

Mengasa Kompetensi Pedagogik (Guru)

Dari tahun ke tahun saya jalani kegiatan saya mendidik anak-anak di madrasah dan di rumah. Dengan pahit, asam, manis pengalaman mengajar, menempa kepribadian saya sebagai pendidik dan ibu rumah tangga.

Kompetensi saya sebagai guru pun mulai terasa. Pedagogik saya terasa seiring dengan proses perkuliahan saya di PGSD. Materi-materi di buku modul pembelajaran berusaha saya pahami. Saya pun melakukan sharing aplikasi teori-teori tersebut dengan tutor di kelas perkuliahan. Saya juga sharing dengan rekan kerja seprofesi. Sering pula saya meminta pendapat suami serta orang-orang sekitar untuk melihat dari sudut pandang mereka.

Salah satu wujud loyalitas dan usaha saya meningkatkan profesionalitas sebagai guru, saya tidak pernah malu bertanya, tak pula segan berbagi. Bersama rekan satu madrasah, saya mencoba menawarkan ide-ide untuk pengembangan peserta didik di sekolah dan kemajuan madrasah secara umum. Karena bagaimanapun juga, kuantitas di sekolah swasta dibutuhkan untuk memenuhi rasio standar yang ditetapkan Kemenag. Namun kuantitas juga harus diiringi dengan kualitas. Maka dari itu, ide-ide yang sekiranya dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan sekolah.

Diantaranay, penggunaan media belajar yang selama ini kurang diterapkan di madrasah, berusaha saya gunakan. Entah itu dari bahan sederhana, melalui percobaan, menggunakan proyektor untuk menyajikan gambar dan peristiwa, kesemuanya saya lakukan semaksimal mungkin. “enak ya pakai proyektor, lebih jelas menenrangkan ke anak-anak”, begitu respon rekan yang lain. Ketika itu, sekitar tahun 2011 memang saya sudah mempunyai laptop. Saya sengaja nekat kredit laptop untuk menunjang pekerjaan saya sebagai tenaga administrasi di SD waktu itu. Juga untuk browsing seputar dunia pendidikan. Madrasah hanya mempunyai satu PC, itu pun digunakan bergantian. Rekan-rekan guru juga belum mempunyai laptop.

Disamping itu, dalam pengembangan kurikulum, saya menawarkan pembiasaan yang diterapkan di awal dan akhir pelajaran. Misalnya pembacaan doa bersama atau surat pendek. Hal ini direspon positif rekan-rekan di madrasah. Lebih dari itu, kepala madrasah berharap lebih, tidak hanya pembacaan doa bersama, namun selain doa bersama, juga dibacakan juga pancasila, dan surat pendek. Ketika sudah dikelas, diadakan pembacaan surat Yasin yang dipimpin dari ruang guru. Setelahnya kemudian dibaca surat pendek di masing-masing kelas sesuai target kelas tersebut.

Lebih dari itu, pengembangan pembiasaan pun berlanjut dengan melakukan sholat Dhuhah berjamaah sebelum semua pembiasaan diatas dilakukan.

Apakah tidak terlalu memakan waktu di awal pelajaran ? tentu tidak. Anak-anak ketika itu masuk pukul 06.30 WIB. Sholat duhah dilaksanakan kurang lebih 15 menit. Pukul 06.45 WIB, anak-anak sudah berbaris didepan kelas masing-masing. Pukul 06.50 WIB semua sudah masuk di kelas untuk membaca surat Yasin bersama. Pukul 07.10 WIB, dimulai pembacaan surat pendek sesuai kelas masing-masing. Saya rasa pembacaan surat Al Quran tersebut merupakan bagian dai literasi.

Dan Alhamdulillah, kegiatan tersebut masih berjalan hingga saat ini. Anak-anak sudah terbiasa dengan pembiasaan yang ada. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi kemajuan madrasah tempat pertama kali saya mengenal dunia keguruan.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 13 Februari 2021

Serba-Serbi Ibu dan Guru

Hati yang sudah perlahan ditata untuk ihlas mengajar, hanya mengharap lillah, semakin hari semakin teruji. Terkadang dihadapkan pada peserta didik yang lumayan membutuhkan penanganan ekstra, terkadang juga didengarkan omongan atau bahkan sindiran terhadap saya.

Memang saya sekarang hanya focus mengajar di satu tempat saja, di madrasah. Kelonggaran yang diberikan pihak madrasah bukan serta merta saya salah gunakan. Akan tetapi, keadaan yang membuat saya melanggar aturan yang ada.

Terlambat !, disiplin itu yang sering saya langgar. Sebenarnya saya bukan jenis orang yang suka beralasan, namun memang keadaan yang membuat saya demikian. Dua anak yang masih balita, bagaiman riweuh nya jika di pagi hari. Walaupun ada ibu yang menjaga, minimal saya sudah meninggalkan anak-anak saya bekerja dalam keadaan sudah mandi dan sudah makan.

Pada kenyataannya, anak-anak kondisinya terkadang kondusif terkadang diluar prediksi. Hal-hal tersebut yang membuat saya sering terlambat.

Pada akhirnya, dengan meminta izin kepada kepala madrasah, anak pertama saya yang kala itu berusia 2 tahun, saya ajak sekolah. Biar ibu hanya menjaga satu anak saya saja ( ketika itu orangtua melarang meminta bantuan orang lain untuk merawat anak-anak saya).

Setiap mengajar, anak pertama saya selalu saya ajak, nanti ketika jam istirahat saya antar pulang karena waktunya makan dan tidur siang (kebiasaannya waktu itu).

Namun lambat laun, terdengar juga omongan yang menurut saya kurang enak didengar. “Mengajar kok bawa anak, gimana dikelas, apa bisa konsentrasi”, demikian kira-kira omongan-omongan yang saya dengar. Apa yang dikatakan rekan-rekan lain tidak saya sanggah, karena memang tidak dibenarkan mengajar membawa anak walaupun kepala madrasah mengizinkan.

Saya hanya diam, karena memang saya salah, tetapi bagaimana lagi. Walaupun dengan membawa anak, toh saya juga berusaha optimal dalam kelas. Anak saya sibuk menulis dikertas yang saya berikan dan bermain dengan mainan yang dia bawa, saya letakkan dia di beranda depan pintu agar tidak menganggu siswa dikelas tetapi saya masih bisa mengawasinya.

Menangis dan berdoa. Apa mereka dulu tidak merasakan seperti ini ketika memiliki anak kecil, apa tidak ada pelanggaran kedisiplinan yang mereka lakukan ketika anak-anak mereka rewel atau sakit dan harus izin tidak masuk, apa mereka selalu tepat waktu setiap harinya. Ssemoga semua ada hikmahnya, semoga semua dapat saya lewati dengan sabar, hanya itu yang dapat saya lakukan. Saya mantabkan “ihlas mengajar” dalam hati saya.

 

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 12 Februari 2021

 

(Belajar) Ihlas

Pada akhirnya saya bisa fokus mengajar di satu tempat saja. Madrasah sebagai pihan saya mengabdi, berusaha mendidik anak-anak negeri, untuk memiliki budi pekerti yang tinggi, berakhlak dan berwawasan luas.

Walaupun dengan gaji yang tidak seberapa, tapi entah saya merasa cukup dengan apa yang ada. Saya hanya ingin ilmu yang saya berikan pada anak didik saya menjadi ilmu yang bermanfaat.

Suami selalu mengingatkan kepada saya, mengajar itu jika tidak dapat didunianya, berharap dapat akhiratnya. Yang kira-kira maksudnya walau mengajar memperoleh gaji sedikit, gaji kecil, ihlas saja, terus optimal mendidik anak-anak, insyaallah akan diganti dengan kecukupan dan keberkahan, kemudahan-kemudahan, bahkan rezeki dari arah yang tak diduga, pokoknya ihlas saja.

Pernah juga mendengar wejangan dari pengurus yayasan sewaktu masih di SMK, abah Ma’mun,  yang selalu saya ingat dari ucapan beliau kira-kira begini “ jika mau mencari uang, jangan jadi guru, karena guru itu tidak ada uangnya. Tapi jika cari keberkahan, berlimpah disini, asalkan ihlas”.

Dua pernyataan yang selalu terngiang hingga sekarang. Yang selalu saya tekankan ketika ada permasalahan-permasalahan di sekolah.

Suami pernah bercerita, tetangganya di desa tempat ia tinggal adalah seorang guru madrasah dan guru ngaji di masjid, ya.. hanya sebagai guru saja, tidak ada profesi lain. Namun anak-anaknya dapat bersekolah hingga di perguruan tinggi, bahkan di salahsatu perguruan tinggi favorit di Surabaya. setelah lulus pun, anak-anak dari tetangga suami saya tersebut dengan mudahnya diterima sebagai pegawai negeri sipil di instansi kedinasan.

Tak hanya itu, abah Ma’mun, pengurus yayasan SMK yang saya tempati dulu, juga bercerita hampir sama. Beliau hanya seorang guru madrasah dan guru ngaji di mushollah, tetapi Alhamdulillah anak-anak beliau juga dapat bersekolah hingga perguruan tinggi, juga di perguruan tinggi negeri.

Subhanallah.. saya pun mulai belajar tentang ihlas dalam mengajar. Bagaimana mengajar dari hati walau masalah-masalah datang silih berganti. Dari anak didik yang memakan hati, perkataan yang menyakiti, bahkan hak-hak yang kadang tak terberi. Satu harapan yang terpatri dihati, mengharap keberkahan Ilahi Robbi.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 11 Februari 2021


The Final Note

  Alhamdulillah, sekian kisah dari perjalanan hidup saya menggeluti dunia pendidikan dengan segala asam manisnya tertuang dalam catatan Tant...