Ridho Orangtua (2)

 

Dan proses pendaftaran pun dilakukan tanpa hambatan berarti. Login dapat saya lakukan dengan mudah, isi data dan cetak kartu pendaftaran. Semua terselesaikan dengan lancar. Tinggal menunggu jadwal tes pertama saja, tes kemampuan dasar.

Sambil menunggu, saya fokus lagi pada persiapan keberangkatan orangtua kami. hingga tiba waktunya untuk mereka berangkat, kami antar hingga bandara, tangis haru keempat orangtua kami pun tak terbendung. Suami menitipkan kepada muthowwif  ( Alm. Ustadz Misbah dari Persada Travel dan Umroh hajj, Lahul faatihah ), meminta bimbingan dan pengawasan. Keempat orangtua kami sudah lansia, usia diatas 68 tahun, kecuali ibu saya.

Dua hari dari keberangkatan orangtua kami, jadwal mengikuti tes CPNS pertama pun sudah keluar. Malam hari, sekitar pukul 24.00 WIB, artinya waktu di tanah suci sekitar pukul 20.00. Berdasarkan jadwal yang diberikan travel umroh, artinya sudah selesai makan malam. Saya menelpon mereka ( saya memberikan 1 ponsel pada ibu saya saja karena yang lebih mengerti, ayah saya yang terkena stroke ringan juga bermasalah di tangannya ), saya mengabari jika besok pagi saya akan melaksanakan tes pertama CPNS. Saya minta doa agar dilancarkan, lagi-lagi tangis mereka pecah ketika menjawab telepon  saya. “ ibu doakan supaya lancar hingga diterima, mak na juga doakan.. nanti tak sampaikan ke bapak untuk mendoakan juga, semoga doa ibu dan bapak diijabah ditanah suci ini…”, (mak na adalah panggilan saya ke ibu mertua saya) , demikian kira-kira yang diucapkan ibu saya dalam telpon kami.

Pagi harinya, setelah sholat subuh, anak-anak saya titipkan ke bulek saya. Saya berangkat diantar suami dengan niat bismillahitawakaltu. Bismillah dan sholawat tidak pernah saya putus dari mulut saya, berharap mendapat kemudahan. Jika Allah meridloi, ini kesempatan terakhir saya mewujudkan keinginan orangtua saya dulu. Jika Allah meridloi, insyaallah akan menjadi berita gembira dan kebanggaan bagi orangtua kami.

Selama 2 jam saya mengikuti serangkaian tes yang dilakukan dengan system CAT. Tes meliputi 3 kemampuan yaitu tes wawasan kebangsaan (TWK), tes intelegensia umum (TIU), dan tes karakteristik kepribadian (TKP). Masing-masing tes mempunyai ambang batas minimum yang harus dicapai. 143 untuk TKP, 80 untuk TIU, dan 75 untuk TWK.

Dan Alhamdulillah, setelah tombol selesai saya tekan, nilai yang terpampang dilayar adalah 120 untuk TWK, 90 untuk TIU, dan 152 untuk TKP. Artinya saya lolos secara passing grade di tes kemampuan dasar. Satu langkah sudah terlewati dengan lancar.

Namun saya masih tidak terlalu berharap lebih apakah nanti saya akan diterima, kawatir kecewa dikemudian hari seperti beberpa tahun silam. Dulu setiap tes saya selalu otimis masuk, tetapi nyatanya nihil. Saat ini, walaupun secara nilai saya lolos, tetapi mencoba menata hati untuk bersikap biasa. Tetap bersyukur Alhamdulillah, hanya itu.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 23 Februari 2021

Ridho Orangtua (1)

 

Entah mengapa dengan bertambahnya usia, dengan pengalaman beberapa tahun menjalani kehidupan rumah tangga, dengan adanya anak, membuat saya dan suami semakin merenung tentang peran orangtua. Merenung ketika menghadapi anak yang rewel, minta ini itu sedangkan kita belum punya uang. Apapun caranya akan kita usahakan, walaupun itu jatah uang untuk belanja sehari-hari. Merenung ketika anak sakit, betapa hati ini ikut menangis, seandainya bisa, biar saya saja yang gantikan. Begadang dua malam dan hanya tidur tidak lebih dari satu jam.

Dengan mengalaminya sendiri, betapa sengsara sesungguhnya orangtua kita dulu. Anak yang tidak sedikit dan kebutuhan yang sangat banyak dalam keterbatasan ekonomi. Namun mereka ihlas tanpa mengeluh tetap merawat kita. Masih teringat betapa mereka terlihat kurus ketika anak-anaknya masih kecil, masih membutuhkan banyak biaya, tenaga dan fikiran untuk membesarkan mereka. Ya, saya lima bersaudara, dan suami enam bersaudara.

Saya dan suami mencoba memahami, mungkin keberadaan kami yang masih harus ikut orangtua, yang belum bisa memiliki tempat tinggal sendiri adalah bagian dari skenario Tuhan YME. Skenarionya akan kesanggupan kita untuk ikut menanggung beban mereka, menggantikan peran mereka. Tuhan masih mempercayakan kepada kami untuk merawat orangtua. Bagaimanapun juga, mereka adalah ladang pahala bagi kami, insyaallah jika ihlas akan menjadi pembuka pintu jannahNya bagi kami.

Ridlo Allah terletak pada ridlo kedua orantua dan murka Allah terletak pada murka kedua orangtua.

Mungkin orangtua kami meridloi dan Tuhan pun menjawab doa-doa kami. Ditahun 2018, atas izin Allah, keempat orangtua kami bisa melaksanakan ibadah umroh. Sungguh momen yang tidak mereka sangka. Menjadi tamu Allah bagi mereka adalah harapan semu. Uang dari mana dengan kehidupan yang pas-pasan.

Saya dan suami menyiapkan semua kebutuhan keberangkatan mereka berempat. Dari pakaian, administrasi, paspor, hingga segala kebutuhan terkecil pun, packing koper pun kami siapkan. Mengapa? Karena dikeluarga kami belum ada yang pernah berangkat ke tanah suci. Tidak ada pengalaman untuk persiapan kesana.

Ditahun itu juga, ada pembukaan seleksi CPNS. Antara ikut atau tidak saya ragu. Ditengah ruwetnya menyiapkan keberangkatan keempat orang tua kami, apa saya juga harus menyiapkan kelengkapan berkas pendaftaran CPNS ?.

Suami saya pun memberikan semangat dan pengertian kepada saya, toh daftarnya hanya mengisi identitas di laman SSCN, belum ada berkas yang disiapkan. Bismillah saja, semoga ada kemudahan. Toh usia saya saat itu berada diambang batas usia yang diperbolehkan daftar, 34 tahun 11 bulan. Mengapa tidak mencoba peruntungan terakhir. Demikian semangat dari suami saya.

Dan … (bersambung ke catatan berikutnya ya.. )

 

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 22 Februari 2021

The Final Note

  Alhamdulillah, sekian kisah dari perjalanan hidup saya menggeluti dunia pendidikan dengan segala asam manisnya tertuang dalam catatan Tant...