Mengasa Kompetensi Kepribadian (Guru)

Pengalaman menghadapi berbagai karakteristik siswa serta rekan guru lainnya juga membuat saya banyak belajar. Mungkin ini yang dinamakan pengembangan kepribadian seorang guru. Awal saya terjun sebagai guru, seperti yang saya paparkan dalam tulisan saya pertama kali, saya sering emosi jika ada siswa yang tidak patuh dengan apa yang saya perintahkan. Siswa harus tenang ketika guru menjelaskan. Omongan rekan yang kurang enak selalu saya ambil hati, serta sikap-sikap saya yang saya sendiri suka tertawa jika mengingatnya.

Dari hal-hal tersebut diatas, juga dengan mempelajari berbagai model pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, teknik pembelajaran, saya pun mulai belajar memahami. Apakah sikap peserta didik saya yang ramai dikelas, kurang memperhatikan, serta sikap lain yang menurut saya kurang, mungkin disebabkan karena saya yang salah dalam menerapkan strategi pembelajaran serta hal-hal lain yang terkait tentang pembelajaran. Hingga dari waktu ke waktu saya mulai berbenah.

Saya mencoba lebih memahami kebutuhan peserta didik. Tentang ketertarikan mereka serta mencoba lebih luwes ketika dikelas misalnya dengan melakukan permainan sedrahan, tebak kata, tebak hasil. Saya memberikan reward kecil, misalnya penghapus bagi yang bisa menjawab perkalian tertentu, saya berikan pensil bagi yang menjawab pertanyaan tertentu, serta hal-hal kecil namun membuat siswa senang.

Disatu waktu, saya dan para siswa juga saling mnednegar pendapat dan keluh kesah serta saran dari mereka, apa yang kurang dari cara saya mengajar, apa yang kurang mereka sukai dari cara mengajar, dan sebaginya tentang uneg-uneg yang ada. Saya juga mengadakan perjanjian kelas, misalnya memberikan waktu istirahat 5 menit dikelas setelah dua jam pembelajaran, pengurangan poin bagi siswa yang jail ketika pembelajaran, serta kesepakatan-kesepakatan lain yang telah kami diskusikan di kelas.

Ternyata, perubahan sikap yang saya lakukan memberikan dampak besar bagi mereka. Anak-naka lebih terbuka, lebih berani mengajukan pertanyaan, mengkritik jika saya salah. Kedekatan-kedekatan seperti ini yang membuat siswa nyaman dengan guru.

Selain itu, saya mencoba memahami jika ada omongan rekan kerja yang menurut saya kurang enak. Saya mencoba introspeksi diri, apakh mungkin hal tersebut karena sikap saya yang salah. Saya pun tidak serta merta menelan informasi kurang baik tentang saya yang disampaikan teman-teman. Jika memang karena keslahan saya, maka saya akan memperbaiki kekurangan saya dan minta maaf. Namun apabila itu hanya praduga, saya akan klarifikasi dengan yang membicarakan secara baik-baik.

Suami saya selalu mengingatkan saya jika disetiap tempat kerja selalu ada gesekan-gesekan, itu wajar, ihlaskan saja, jika kita tidak melakukan apa yang diucapkan, jika saya tidak mendapat hak yang seharusnya saya dapat, insyaallah jika ihlas dan legowo, Allah akan mengganti dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Ya, hal tersebut yang selalu saya pegang.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 14 Februari 2021

Mengasa Kompetensi Pedagogik (Guru)

Dari tahun ke tahun saya jalani kegiatan saya mendidik anak-anak di madrasah dan di rumah. Dengan pahit, asam, manis pengalaman mengajar, menempa kepribadian saya sebagai pendidik dan ibu rumah tangga.

Kompetensi saya sebagai guru pun mulai terasa. Pedagogik saya terasa seiring dengan proses perkuliahan saya di PGSD. Materi-materi di buku modul pembelajaran berusaha saya pahami. Saya pun melakukan sharing aplikasi teori-teori tersebut dengan tutor di kelas perkuliahan. Saya juga sharing dengan rekan kerja seprofesi. Sering pula saya meminta pendapat suami serta orang-orang sekitar untuk melihat dari sudut pandang mereka.

Salah satu wujud loyalitas dan usaha saya meningkatkan profesionalitas sebagai guru, saya tidak pernah malu bertanya, tak pula segan berbagi. Bersama rekan satu madrasah, saya mencoba menawarkan ide-ide untuk pengembangan peserta didik di sekolah dan kemajuan madrasah secara umum. Karena bagaimanapun juga, kuantitas di sekolah swasta dibutuhkan untuk memenuhi rasio standar yang ditetapkan Kemenag. Namun kuantitas juga harus diiringi dengan kualitas. Maka dari itu, ide-ide yang sekiranya dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan sekolah.

Diantaranay, penggunaan media belajar yang selama ini kurang diterapkan di madrasah, berusaha saya gunakan. Entah itu dari bahan sederhana, melalui percobaan, menggunakan proyektor untuk menyajikan gambar dan peristiwa, kesemuanya saya lakukan semaksimal mungkin. “enak ya pakai proyektor, lebih jelas menenrangkan ke anak-anak”, begitu respon rekan yang lain. Ketika itu, sekitar tahun 2011 memang saya sudah mempunyai laptop. Saya sengaja nekat kredit laptop untuk menunjang pekerjaan saya sebagai tenaga administrasi di SD waktu itu. Juga untuk browsing seputar dunia pendidikan. Madrasah hanya mempunyai satu PC, itu pun digunakan bergantian. Rekan-rekan guru juga belum mempunyai laptop.

Disamping itu, dalam pengembangan kurikulum, saya menawarkan pembiasaan yang diterapkan di awal dan akhir pelajaran. Misalnya pembacaan doa bersama atau surat pendek. Hal ini direspon positif rekan-rekan di madrasah. Lebih dari itu, kepala madrasah berharap lebih, tidak hanya pembacaan doa bersama, namun selain doa bersama, juga dibacakan juga pancasila, dan surat pendek. Ketika sudah dikelas, diadakan pembacaan surat Yasin yang dipimpin dari ruang guru. Setelahnya kemudian dibaca surat pendek di masing-masing kelas sesuai target kelas tersebut.

Lebih dari itu, pengembangan pembiasaan pun berlanjut dengan melakukan sholat Dhuhah berjamaah sebelum semua pembiasaan diatas dilakukan.

Apakah tidak terlalu memakan waktu di awal pelajaran ? tentu tidak. Anak-anak ketika itu masuk pukul 06.30 WIB. Sholat duhah dilaksanakan kurang lebih 15 menit. Pukul 06.45 WIB, anak-anak sudah berbaris didepan kelas masing-masing. Pukul 06.50 WIB semua sudah masuk di kelas untuk membaca surat Yasin bersama. Pukul 07.10 WIB, dimulai pembacaan surat pendek sesuai kelas masing-masing. Saya rasa pembacaan surat Al Quran tersebut merupakan bagian dai literasi.

Dan Alhamdulillah, kegiatan tersebut masih berjalan hingga saat ini. Anak-anak sudah terbiasa dengan pembiasaan yang ada. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi kemajuan madrasah tempat pertama kali saya mengenal dunia keguruan.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 13 Februari 2021

Serba-Serbi Ibu dan Guru

Hati yang sudah perlahan ditata untuk ihlas mengajar, hanya mengharap lillah, semakin hari semakin teruji. Terkadang dihadapkan pada peserta didik yang lumayan membutuhkan penanganan ekstra, terkadang juga didengarkan omongan atau bahkan sindiran terhadap saya.

Memang saya sekarang hanya focus mengajar di satu tempat saja, di madrasah. Kelonggaran yang diberikan pihak madrasah bukan serta merta saya salah gunakan. Akan tetapi, keadaan yang membuat saya melanggar aturan yang ada.

Terlambat !, disiplin itu yang sering saya langgar. Sebenarnya saya bukan jenis orang yang suka beralasan, namun memang keadaan yang membuat saya demikian. Dua anak yang masih balita, bagaiman riweuh nya jika di pagi hari. Walaupun ada ibu yang menjaga, minimal saya sudah meninggalkan anak-anak saya bekerja dalam keadaan sudah mandi dan sudah makan.

Pada kenyataannya, anak-anak kondisinya terkadang kondusif terkadang diluar prediksi. Hal-hal tersebut yang membuat saya sering terlambat.

Pada akhirnya, dengan meminta izin kepada kepala madrasah, anak pertama saya yang kala itu berusia 2 tahun, saya ajak sekolah. Biar ibu hanya menjaga satu anak saya saja ( ketika itu orangtua melarang meminta bantuan orang lain untuk merawat anak-anak saya).

Setiap mengajar, anak pertama saya selalu saya ajak, nanti ketika jam istirahat saya antar pulang karena waktunya makan dan tidur siang (kebiasaannya waktu itu).

Namun lambat laun, terdengar juga omongan yang menurut saya kurang enak didengar. “Mengajar kok bawa anak, gimana dikelas, apa bisa konsentrasi”, demikian kira-kira omongan-omongan yang saya dengar. Apa yang dikatakan rekan-rekan lain tidak saya sanggah, karena memang tidak dibenarkan mengajar membawa anak walaupun kepala madrasah mengizinkan.

Saya hanya diam, karena memang saya salah, tetapi bagaimana lagi. Walaupun dengan membawa anak, toh saya juga berusaha optimal dalam kelas. Anak saya sibuk menulis dikertas yang saya berikan dan bermain dengan mainan yang dia bawa, saya letakkan dia di beranda depan pintu agar tidak menganggu siswa dikelas tetapi saya masih bisa mengawasinya.

Menangis dan berdoa. Apa mereka dulu tidak merasakan seperti ini ketika memiliki anak kecil, apa tidak ada pelanggaran kedisiplinan yang mereka lakukan ketika anak-anak mereka rewel atau sakit dan harus izin tidak masuk, apa mereka selalu tepat waktu setiap harinya. Ssemoga semua ada hikmahnya, semoga semua dapat saya lewati dengan sabar, hanya itu yang dapat saya lakukan. Saya mantabkan “ihlas mengajar” dalam hati saya.

 

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 12 Februari 2021

 

(Belajar) Ihlas

Pada akhirnya saya bisa fokus mengajar di satu tempat saja. Madrasah sebagai pihan saya mengabdi, berusaha mendidik anak-anak negeri, untuk memiliki budi pekerti yang tinggi, berakhlak dan berwawasan luas.

Walaupun dengan gaji yang tidak seberapa, tapi entah saya merasa cukup dengan apa yang ada. Saya hanya ingin ilmu yang saya berikan pada anak didik saya menjadi ilmu yang bermanfaat.

Suami selalu mengingatkan kepada saya, mengajar itu jika tidak dapat didunianya, berharap dapat akhiratnya. Yang kira-kira maksudnya walau mengajar memperoleh gaji sedikit, gaji kecil, ihlas saja, terus optimal mendidik anak-anak, insyaallah akan diganti dengan kecukupan dan keberkahan, kemudahan-kemudahan, bahkan rezeki dari arah yang tak diduga, pokoknya ihlas saja.

Pernah juga mendengar wejangan dari pengurus yayasan sewaktu masih di SMK, abah Ma’mun,  yang selalu saya ingat dari ucapan beliau kira-kira begini “ jika mau mencari uang, jangan jadi guru, karena guru itu tidak ada uangnya. Tapi jika cari keberkahan, berlimpah disini, asalkan ihlas”.

Dua pernyataan yang selalu terngiang hingga sekarang. Yang selalu saya tekankan ketika ada permasalahan-permasalahan di sekolah.

Suami pernah bercerita, tetangganya di desa tempat ia tinggal adalah seorang guru madrasah dan guru ngaji di masjid, ya.. hanya sebagai guru saja, tidak ada profesi lain. Namun anak-anaknya dapat bersekolah hingga di perguruan tinggi, bahkan di salahsatu perguruan tinggi favorit di Surabaya. setelah lulus pun, anak-anak dari tetangga suami saya tersebut dengan mudahnya diterima sebagai pegawai negeri sipil di instansi kedinasan.

Tak hanya itu, abah Ma’mun, pengurus yayasan SMK yang saya tempati dulu, juga bercerita hampir sama. Beliau hanya seorang guru madrasah dan guru ngaji di mushollah, tetapi Alhamdulillah anak-anak beliau juga dapat bersekolah hingga perguruan tinggi, juga di perguruan tinggi negeri.

Subhanallah.. saya pun mulai belajar tentang ihlas dalam mengajar. Bagaimana mengajar dari hati walau masalah-masalah datang silih berganti. Dari anak didik yang memakan hati, perkataan yang menyakiti, bahkan hak-hak yang kadang tak terberi. Satu harapan yang terpatri dihati, mengharap keberkahan Ilahi Robbi.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 11 Februari 2021


Dilema (2)

Guru dan ibu rumah tangga adalah profesi yang saya sandang saat ini. Memiliki dua balita dan mengajar di dua sekolah memang bukan hal yang mudah. Membagi waktu antara anak dan sekolah sangat menguras tenaga dan fikiran. Apalagi ketika anak rewel, sudah pasti terlambat datang ke sekolah.

Hari ke hari saya semakin sering terlambat ke sekolah. Jika madrasah yang berjarak dekat dengan rumah, keterlambatan saya masih dapat ditolelir, 5 sampai 10 menit saja. Namun untuk dapat ke SMK, perjalanan yang saya butuhkan sekitar 15 menit. Ketika anak-anak rewel, sudah dipastikan saya terlambat bisa lebih dari 30 menit.

Saya memang selalu izin terlambat jika dirasa keadaan anak-anak belum kondusif. Pihak SMK pun selalu memberikan izin dan memakluminya.

Akan tetapi, saya pun sadar diri, saya merasa malu. Tidak seperti ini seharusnya. Kasihan juga anak didik saya yang kurang optimal menerima materi karena keterlambatan saya. Kasihan dengan guru piket pengisi kelas saya ketika saya terlambat. Saya benar-benar merasa berdosa.

Hingga suatu hari, saya berdiskusi dengan suami tentang pengunduran diri saya dari SMK. Saya akan fokus di madrasah saja. Dari awal, suami saya memang menawarkan kepada saya untuk berhenti mengajar atau mengajar di satu tempat saja. Namun, saya yang tidak mau. Bagaimana nanti kalu anak-anak sudah besar, apa yang saya lakukan di rumah, dan saya merasa masih sanggup membagi tenaga dan waktu. Hingga saya pun menyerah. Memang seharusnya saya menurut apa yang suami katakan.

Saya pun memutuskan untuk fokus di satu sekolah saja. Saya memilih madrasah sebagai tempat beraktifitas dan melepas SMK.

Pengunduran diri saya ajukan ke kepala SMK. Sebenarnya pihak SMK mau mentolelir “ketidakdisiplinan” saya. Mengingat saya juga termasuk bagian dari yang “babat alas” berdirinya SMK tersebut. Namun dengan berat hati dan terimakasih sebanyak-banyaknya atas apresiasi yang diberikan, saya mengajukan pengunduran diri saya dari SMK.

Dengan memilih satu sekolah sesuai arahan suami, saya bisa berkonsentrasi di madrasah dan masih dapat memantau keadaan anak-anak saya di rumah. Profesi guru yang sudah mulai saya nikmati masih dapat saya laksanakan, kewajiban sebagai ibu pun juga tidak terabaikan.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 10 Februari 2021

Dilema ( 1 )

Dengan menyandang predikat sebagai guru professional, maka loyalitas pun harus maksimal. Jangan sampai keberkahan hilang karena keegoisan kita. Ketika saya sudah menikah, ditahun kedua pernikahan, Tuhan sudah menitipkan rizki kepada saya seorang bayi laki-laki yang sehat. Di tahun ketiga, saya kembali dianugerahi seorang bayi perempuan yang sempurna. Peran saya sebagai ibu rumah tangga pun dituntuk lebih. Tetapi tanpa mengesampingkan kewajiban sebagai pendidik.

Bukan rahasia umum jika memiliki dua anak balita pasti akan menguras tenaga dan fikiran. Memang ketika itu saya masih ikut dengan orangtua saya. Namun, orangtua khususnya ibu saya akan menemani anak-anak ketika saya tinggal mengajar.

Ketika anak-anak rewel di pagi hari, atau ketika anak sakit, sudah dipastikan saya terlambat datang ke sekolah bahkan saya sering sekali izin ketika anak-anak sakit. Walaupun pihak sekolah mengizikan, namun saya juga merasa malu. Tidak mungkin saya akan seperti ini dalam waktu yang cukup lama mungkin, mengingat dua anak saya yang selisih usianya tidak begitu jauh.

Suami menyarankan untuk melepaskan satu atau dua sekolah, dan fokus di satu tempat saja. Menjadi dilemma tersendiri bagi saya ketika itu. Saya di sekolah dasar negeri, berharap suatu ketika mendapat SK dari Bupati sebagai tenaga honorer dan pada akhirnya diangkat sebagai pegawai negeri. Karena memang rumor yang ada pada waktu itu memang setelah lima tahun kemungkinan dapat diangkat sebagai tenaga honorer.

Akan tetapi, saya sudah menginduk di madrasah. Saya pun sudah terjaring sertifikasi di madrasah. Disisi lain, lokasi madrasah dekat dengan rumah, jadi saya dapat pulang untuk memberi ASI anak saya ketika istirahat.

Untuk SMK, pelajaran yang saya ampuh sesuai dengan ijazah pertama saya. Saya juga nyaman dengan lingkungannya. Tetapi jarak yang ditempuh cukup jauh.

Dengan berbagai pertimbangan, suami menyarakan saya untuk memilih madrasah saja. Insyaallah rizki sudah dijamin Allah, yang penting ihlas, dan apa yang saya lakukan menjadi berkah. Di madrasah, saya masih bisa mengurus anak-anak dan tetap menjalankan kewajiban mengajar. Begitu kira-kira yang suami sampaikan kepada saya.

Dengan bsimillah, saya pun mengajukan pengunduran diri dari sekolah dasar dan mempertahankan madrasah dan SMK. Saya pilih madrasah sesuai arahan suami saya dan juga karena saya sudah terjaring sertifikasi. Saya pilih SMK, walaupun jauh karena pihak SMK masih mau memberi dispensasi kepada saya untuk mengajar hanya dua hari saja. Pihak sekolah akan mencari guru baru seiring bertambahnya rombel dan jurusan disana.

Pihak sekolah dasar merasa keberatan ketika saya mengajukan pengunduran diri. Kepala sekolah yang baru berusaha mempertahankan saya. Beliau akan berusaha mengajukan jika ada permohonan tenaga honorer. Saya tetap pada keputusan saya. Pihak sekolah meminta saya mencarikan pengganti saya sebagai tenaga administrasi dan mengajarinya berdasarkan job description tenaga administrasi. Agar tidak mengecewakan pihak sekolah dasar, saya meminta pihak sekolah yang mencari pengganti saya, dan saya yang akan membimbingnya hingga lancar sesuai tugas dan kewajibanya.

Sekolah dasar saya lepaskan karena disana saya hanya sebagai tenaga administrasi. Sedangkan saya berharap menjadi guru. Melihat kondisi dilapangan bahwa posisi guru sudah terisi semua, saya berasumsi jika selamanya saya pun akan menjadi tenaga administrasi di sekolah tersebut.

24 jam pelajaran saya tempuh selama tiga hari di madrasah, dan dua hari di SMK. Artinya saya mempunyai waktu libur 2 hari di rumah ketika itu. Terkadang beberapa waktu saya juga harus ke sekolah dasar untuk mendampingi tenaga administrasi yang baru

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 9 Februari 2021

Sertifikasi

Hari-hari saya mulai terisi dan terbiasa dengan dunia pendidikan. Dunia anak-anak hingga remaja, bahkan berbagai karakter dari rekan-rekan kerja. Saya mulai belajar memahami dan mencoba menyesuaikan. Mulai menata hati untuk bekerja ihlas, bekerja cerdas, dan bekerja tuntas.

Pagi saya jalani di madrasah dan sekolah dasar, siang saya lanjutkan langkah di SMK. Begitu setiap hari. Mulai merasakan ritme irama mengajar. Merasakan manis pahitnya dunia pedidikan.

Jika mengutip dawuhnya Almarhum KH. Maimoen Zubair, " jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar. nanti kamu marah ketika melhat muridmu tidak pintar. ihlasnya akan hilang. yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. maslah muridmu pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus agar muridnya dapat hidayah".

Memang benar, diawal mengajar saya tekankan agar anak didik saya pintar, bisa, paham, mengerti, dan dapat nilai bagus. Pada akhirnya ketika mereka mendapat nilai kurang, saya marah-marah. Saat ini saya memahami jika arakter setiap peserta didik itu berbeda, kita tidak dapat memaksakan mereka untuk menguasai semua materi, semua disiplin ilmu. 

Saya mulai mengubah strategi pembelajar saya. Saya lebih banyak bicara dari hati dan mendengarkan bagaimana kemauan mereka dalam memahami suatu materi, saya mulai mencoba melakukan pendekatan-pendekatan. Tak lupa saya selipkan doa di akhir sholat saya.

Suami pun mendukung penuh apa yang saya lakukan, menurutnya jangan lihat nominalnya dalam mengajar, ambil berkahnya, toh walaupun hanya menerima 600ribu sebulan, nyatanya selama ini sebelum menikah, saya juga mampu membantu kebutuhan orangtua saya, mampu menyumbang biaya sekolah adik-adik saya. Mungkin ini yang dinamakan berkah.

Alhamdulillah, setelah menata hati, menjalani profesi ini dengan sudut pandang berbeda, dengan dukungan penuh dari suami dan keluarga. Ditahun 2014, nama saya muncul di website Kementerian Agama terjaring untuk mengikuti Sertifikasi Guru (Sergur).

Perjalanan saya untuk terjaring sergur ini juga tidak muda. Ketika itu saya melihat daftar nama yang terjaring PLPG di website kementerian agama, tercatat nama saya. Namun, kepala madrasah saya menyampaikan jika nama teman saya yang tercatat. Saya menanyakan mengapa saya tidak, padahal di website Kemenag ada nama saya, namun tidak ada jawaban yang pasti.

Saya pun menelusur ke Kemenag kabupaten bagian Pendidikan Madrasah (Pendma), pihak Pendma menyatakan menerima data dari kanwil. Saya mendatangi kanwil, pihak kanwil menyatakan menerima data dari LPTK. Saya pun mendatangi LPTK, ketika itu IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pihak LPTK menyatakan jika data yang diterima berasal dari kabupaten. Saya pun menyerah dan pasrah. Memang bukan rizki saya.

Kecewa. Tidak munafik jika setiap guru khususnya akan merasa senang jika terjaring sergur. Bagimana tidak, hal tersebut merupakan salah satu harapan untuk meningkatkan penghasilan, yang semula hanya beberapa ratus ribu, menjadi 6 digit angka, apalagi saya juga sudah memiliki Sk Inpassing (penyetaraan golongan). 

Saya hanya menangis kecewa, berdoa semoga ada himah dibalik semua ini. Suami pun menguatkan, bahwa rizki itu tidak hanya berupa uang, anak-anak sehat, keluarga adem ayem merupakan bagian dari rizki. Lambat laun saya bisa mengikis kekecewaan saya.

Di tahun 2015, saya resmi menerima surat panggilan untuk mengikuti sertifikasi guru melalui pola Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ( PLPG ) di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang. Sebenarnya saya sudah tidak terlalu berharap, tetapi melihat nama saya ada di lampiran belakang surat panggilan pemberkasan dari Pendma kabupaten, dengan bismillah, saya pun melangkah mengikuti sertifikasi guru tersebut.

Senang namun berat. Senang artinya jika lulus saya mendapat tunjangan yang insyallah lebih banyak dari sebelumnya, artinya saya dapat menabung untuk sekolah anak saya dan membantu suami saya secara finansial. Berat, karena saya harus meninggalkan dua anak saya yang ketika itu berusia 2 th dan 1 th. 

Ayah, Ibu, dan suami menguatkan saya, meyakinkan saya jika anak-anak akan baik-baik saja. Saya bisa melakukan video call kapanpun. Sepuluh hari berpisah dengan mereka yang masih kecil begitu menyesakkan dada. Naluri ibu yang tidak dapat dipungkiri. Bagimanapun keluarga memang tempat yang terbaik.

Tepat pada hari jumat bulan Oktober tahun 2015, entah tanggal berapa, saya pun berangkat mengikuti PLPG di Kota Batu. saya harus fokus dan lulus PLPG. Saya tidak boleh mengecewakan orang rumah. Saya tidak boleh melakukan pengorbanan yang sia-sia. Alhamdulillah, 10 hari terberat dapat saya lalui. Sertfikat pendidik pun saya terima tiga bulan kemudian.

Dengan menyandang predikat guru profesional, saya harus bisa lebih baik, harus bisa lebih total dalam mendidik siswa-siswi saya.


ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 8 Februari 2021


The Final Note

  Alhamdulillah, sekian kisah dari perjalanan hidup saya menggeluti dunia pendidikan dengan segala asam manisnya tertuang dalam catatan Tant...