Serba-Serbi Ibu dan Guru

Hati yang sudah perlahan ditata untuk ihlas mengajar, hanya mengharap lillah, semakin hari semakin teruji. Terkadang dihadapkan pada peserta didik yang lumayan membutuhkan penanganan ekstra, terkadang juga didengarkan omongan atau bahkan sindiran terhadap saya.

Memang saya sekarang hanya focus mengajar di satu tempat saja, di madrasah. Kelonggaran yang diberikan pihak madrasah bukan serta merta saya salah gunakan. Akan tetapi, keadaan yang membuat saya melanggar aturan yang ada.

Terlambat !, disiplin itu yang sering saya langgar. Sebenarnya saya bukan jenis orang yang suka beralasan, namun memang keadaan yang membuat saya demikian. Dua anak yang masih balita, bagaiman riweuh nya jika di pagi hari. Walaupun ada ibu yang menjaga, minimal saya sudah meninggalkan anak-anak saya bekerja dalam keadaan sudah mandi dan sudah makan.

Pada kenyataannya, anak-anak kondisinya terkadang kondusif terkadang diluar prediksi. Hal-hal tersebut yang membuat saya sering terlambat.

Pada akhirnya, dengan meminta izin kepada kepala madrasah, anak pertama saya yang kala itu berusia 2 tahun, saya ajak sekolah. Biar ibu hanya menjaga satu anak saya saja ( ketika itu orangtua melarang meminta bantuan orang lain untuk merawat anak-anak saya).

Setiap mengajar, anak pertama saya selalu saya ajak, nanti ketika jam istirahat saya antar pulang karena waktunya makan dan tidur siang (kebiasaannya waktu itu).

Namun lambat laun, terdengar juga omongan yang menurut saya kurang enak didengar. “Mengajar kok bawa anak, gimana dikelas, apa bisa konsentrasi”, demikian kira-kira omongan-omongan yang saya dengar. Apa yang dikatakan rekan-rekan lain tidak saya sanggah, karena memang tidak dibenarkan mengajar membawa anak walaupun kepala madrasah mengizinkan.

Saya hanya diam, karena memang saya salah, tetapi bagaimana lagi. Walaupun dengan membawa anak, toh saya juga berusaha optimal dalam kelas. Anak saya sibuk menulis dikertas yang saya berikan dan bermain dengan mainan yang dia bawa, saya letakkan dia di beranda depan pintu agar tidak menganggu siswa dikelas tetapi saya masih bisa mengawasinya.

Menangis dan berdoa. Apa mereka dulu tidak merasakan seperti ini ketika memiliki anak kecil, apa tidak ada pelanggaran kedisiplinan yang mereka lakukan ketika anak-anak mereka rewel atau sakit dan harus izin tidak masuk, apa mereka selalu tepat waktu setiap harinya. Ssemoga semua ada hikmahnya, semoga semua dapat saya lewati dengan sabar, hanya itu yang dapat saya lakukan. Saya mantabkan “ihlas mengajar” dalam hati saya.

 

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 12 Februari 2021

 

(Belajar) Ihlas

Pada akhirnya saya bisa fokus mengajar di satu tempat saja. Madrasah sebagai pihan saya mengabdi, berusaha mendidik anak-anak negeri, untuk memiliki budi pekerti yang tinggi, berakhlak dan berwawasan luas.

Walaupun dengan gaji yang tidak seberapa, tapi entah saya merasa cukup dengan apa yang ada. Saya hanya ingin ilmu yang saya berikan pada anak didik saya menjadi ilmu yang bermanfaat.

Suami selalu mengingatkan kepada saya, mengajar itu jika tidak dapat didunianya, berharap dapat akhiratnya. Yang kira-kira maksudnya walau mengajar memperoleh gaji sedikit, gaji kecil, ihlas saja, terus optimal mendidik anak-anak, insyaallah akan diganti dengan kecukupan dan keberkahan, kemudahan-kemudahan, bahkan rezeki dari arah yang tak diduga, pokoknya ihlas saja.

Pernah juga mendengar wejangan dari pengurus yayasan sewaktu masih di SMK, abah Ma’mun,  yang selalu saya ingat dari ucapan beliau kira-kira begini “ jika mau mencari uang, jangan jadi guru, karena guru itu tidak ada uangnya. Tapi jika cari keberkahan, berlimpah disini, asalkan ihlas”.

Dua pernyataan yang selalu terngiang hingga sekarang. Yang selalu saya tekankan ketika ada permasalahan-permasalahan di sekolah.

Suami pernah bercerita, tetangganya di desa tempat ia tinggal adalah seorang guru madrasah dan guru ngaji di masjid, ya.. hanya sebagai guru saja, tidak ada profesi lain. Namun anak-anaknya dapat bersekolah hingga di perguruan tinggi, bahkan di salahsatu perguruan tinggi favorit di Surabaya. setelah lulus pun, anak-anak dari tetangga suami saya tersebut dengan mudahnya diterima sebagai pegawai negeri sipil di instansi kedinasan.

Tak hanya itu, abah Ma’mun, pengurus yayasan SMK yang saya tempati dulu, juga bercerita hampir sama. Beliau hanya seorang guru madrasah dan guru ngaji di mushollah, tetapi Alhamdulillah anak-anak beliau juga dapat bersekolah hingga perguruan tinggi, juga di perguruan tinggi negeri.

Subhanallah.. saya pun mulai belajar tentang ihlas dalam mengajar. Bagaimana mengajar dari hati walau masalah-masalah datang silih berganti. Dari anak didik yang memakan hati, perkataan yang menyakiti, bahkan hak-hak yang kadang tak terberi. Satu harapan yang terpatri dihati, mengharap keberkahan Ilahi Robbi.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 11 Februari 2021


Dilema (2)

Guru dan ibu rumah tangga adalah profesi yang saya sandang saat ini. Memiliki dua balita dan mengajar di dua sekolah memang bukan hal yang mudah. Membagi waktu antara anak dan sekolah sangat menguras tenaga dan fikiran. Apalagi ketika anak rewel, sudah pasti terlambat datang ke sekolah.

Hari ke hari saya semakin sering terlambat ke sekolah. Jika madrasah yang berjarak dekat dengan rumah, keterlambatan saya masih dapat ditolelir, 5 sampai 10 menit saja. Namun untuk dapat ke SMK, perjalanan yang saya butuhkan sekitar 15 menit. Ketika anak-anak rewel, sudah dipastikan saya terlambat bisa lebih dari 30 menit.

Saya memang selalu izin terlambat jika dirasa keadaan anak-anak belum kondusif. Pihak SMK pun selalu memberikan izin dan memakluminya.

Akan tetapi, saya pun sadar diri, saya merasa malu. Tidak seperti ini seharusnya. Kasihan juga anak didik saya yang kurang optimal menerima materi karena keterlambatan saya. Kasihan dengan guru piket pengisi kelas saya ketika saya terlambat. Saya benar-benar merasa berdosa.

Hingga suatu hari, saya berdiskusi dengan suami tentang pengunduran diri saya dari SMK. Saya akan fokus di madrasah saja. Dari awal, suami saya memang menawarkan kepada saya untuk berhenti mengajar atau mengajar di satu tempat saja. Namun, saya yang tidak mau. Bagaimana nanti kalu anak-anak sudah besar, apa yang saya lakukan di rumah, dan saya merasa masih sanggup membagi tenaga dan waktu. Hingga saya pun menyerah. Memang seharusnya saya menurut apa yang suami katakan.

Saya pun memutuskan untuk fokus di satu sekolah saja. Saya memilih madrasah sebagai tempat beraktifitas dan melepas SMK.

Pengunduran diri saya ajukan ke kepala SMK. Sebenarnya pihak SMK mau mentolelir “ketidakdisiplinan” saya. Mengingat saya juga termasuk bagian dari yang “babat alas” berdirinya SMK tersebut. Namun dengan berat hati dan terimakasih sebanyak-banyaknya atas apresiasi yang diberikan, saya mengajukan pengunduran diri saya dari SMK.

Dengan memilih satu sekolah sesuai arahan suami, saya bisa berkonsentrasi di madrasah dan masih dapat memantau keadaan anak-anak saya di rumah. Profesi guru yang sudah mulai saya nikmati masih dapat saya laksanakan, kewajiban sebagai ibu pun juga tidak terabaikan.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 10 Februari 2021

Dilema ( 1 )

Dengan menyandang predikat sebagai guru professional, maka loyalitas pun harus maksimal. Jangan sampai keberkahan hilang karena keegoisan kita. Ketika saya sudah menikah, ditahun kedua pernikahan, Tuhan sudah menitipkan rizki kepada saya seorang bayi laki-laki yang sehat. Di tahun ketiga, saya kembali dianugerahi seorang bayi perempuan yang sempurna. Peran saya sebagai ibu rumah tangga pun dituntuk lebih. Tetapi tanpa mengesampingkan kewajiban sebagai pendidik.

Bukan rahasia umum jika memiliki dua anak balita pasti akan menguras tenaga dan fikiran. Memang ketika itu saya masih ikut dengan orangtua saya. Namun, orangtua khususnya ibu saya akan menemani anak-anak ketika saya tinggal mengajar.

Ketika anak-anak rewel di pagi hari, atau ketika anak sakit, sudah dipastikan saya terlambat datang ke sekolah bahkan saya sering sekali izin ketika anak-anak sakit. Walaupun pihak sekolah mengizikan, namun saya juga merasa malu. Tidak mungkin saya akan seperti ini dalam waktu yang cukup lama mungkin, mengingat dua anak saya yang selisih usianya tidak begitu jauh.

Suami menyarankan untuk melepaskan satu atau dua sekolah, dan fokus di satu tempat saja. Menjadi dilemma tersendiri bagi saya ketika itu. Saya di sekolah dasar negeri, berharap suatu ketika mendapat SK dari Bupati sebagai tenaga honorer dan pada akhirnya diangkat sebagai pegawai negeri. Karena memang rumor yang ada pada waktu itu memang setelah lima tahun kemungkinan dapat diangkat sebagai tenaga honorer.

Akan tetapi, saya sudah menginduk di madrasah. Saya pun sudah terjaring sertifikasi di madrasah. Disisi lain, lokasi madrasah dekat dengan rumah, jadi saya dapat pulang untuk memberi ASI anak saya ketika istirahat.

Untuk SMK, pelajaran yang saya ampuh sesuai dengan ijazah pertama saya. Saya juga nyaman dengan lingkungannya. Tetapi jarak yang ditempuh cukup jauh.

Dengan berbagai pertimbangan, suami menyarakan saya untuk memilih madrasah saja. Insyaallah rizki sudah dijamin Allah, yang penting ihlas, dan apa yang saya lakukan menjadi berkah. Di madrasah, saya masih bisa mengurus anak-anak dan tetap menjalankan kewajiban mengajar. Begitu kira-kira yang suami sampaikan kepada saya.

Dengan bsimillah, saya pun mengajukan pengunduran diri dari sekolah dasar dan mempertahankan madrasah dan SMK. Saya pilih madrasah sesuai arahan suami saya dan juga karena saya sudah terjaring sertifikasi. Saya pilih SMK, walaupun jauh karena pihak SMK masih mau memberi dispensasi kepada saya untuk mengajar hanya dua hari saja. Pihak sekolah akan mencari guru baru seiring bertambahnya rombel dan jurusan disana.

Pihak sekolah dasar merasa keberatan ketika saya mengajukan pengunduran diri. Kepala sekolah yang baru berusaha mempertahankan saya. Beliau akan berusaha mengajukan jika ada permohonan tenaga honorer. Saya tetap pada keputusan saya. Pihak sekolah meminta saya mencarikan pengganti saya sebagai tenaga administrasi dan mengajarinya berdasarkan job description tenaga administrasi. Agar tidak mengecewakan pihak sekolah dasar, saya meminta pihak sekolah yang mencari pengganti saya, dan saya yang akan membimbingnya hingga lancar sesuai tugas dan kewajibanya.

Sekolah dasar saya lepaskan karena disana saya hanya sebagai tenaga administrasi. Sedangkan saya berharap menjadi guru. Melihat kondisi dilapangan bahwa posisi guru sudah terisi semua, saya berasumsi jika selamanya saya pun akan menjadi tenaga administrasi di sekolah tersebut.

24 jam pelajaran saya tempuh selama tiga hari di madrasah, dan dua hari di SMK. Artinya saya mempunyai waktu libur 2 hari di rumah ketika itu. Terkadang beberapa waktu saya juga harus ke sekolah dasar untuk mendampingi tenaga administrasi yang baru

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 9 Februari 2021

Sertifikasi

Hari-hari saya mulai terisi dan terbiasa dengan dunia pendidikan. Dunia anak-anak hingga remaja, bahkan berbagai karakter dari rekan-rekan kerja. Saya mulai belajar memahami dan mencoba menyesuaikan. Mulai menata hati untuk bekerja ihlas, bekerja cerdas, dan bekerja tuntas.

Pagi saya jalani di madrasah dan sekolah dasar, siang saya lanjutkan langkah di SMK. Begitu setiap hari. Mulai merasakan ritme irama mengajar. Merasakan manis pahitnya dunia pedidikan.

Jika mengutip dawuhnya Almarhum KH. Maimoen Zubair, " jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar. nanti kamu marah ketika melhat muridmu tidak pintar. ihlasnya akan hilang. yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. maslah muridmu pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus agar muridnya dapat hidayah".

Memang benar, diawal mengajar saya tekankan agar anak didik saya pintar, bisa, paham, mengerti, dan dapat nilai bagus. Pada akhirnya ketika mereka mendapat nilai kurang, saya marah-marah. Saat ini saya memahami jika arakter setiap peserta didik itu berbeda, kita tidak dapat memaksakan mereka untuk menguasai semua materi, semua disiplin ilmu. 

Saya mulai mengubah strategi pembelajar saya. Saya lebih banyak bicara dari hati dan mendengarkan bagaimana kemauan mereka dalam memahami suatu materi, saya mulai mencoba melakukan pendekatan-pendekatan. Tak lupa saya selipkan doa di akhir sholat saya.

Suami pun mendukung penuh apa yang saya lakukan, menurutnya jangan lihat nominalnya dalam mengajar, ambil berkahnya, toh walaupun hanya menerima 600ribu sebulan, nyatanya selama ini sebelum menikah, saya juga mampu membantu kebutuhan orangtua saya, mampu menyumbang biaya sekolah adik-adik saya. Mungkin ini yang dinamakan berkah.

Alhamdulillah, setelah menata hati, menjalani profesi ini dengan sudut pandang berbeda, dengan dukungan penuh dari suami dan keluarga. Ditahun 2014, nama saya muncul di website Kementerian Agama terjaring untuk mengikuti Sertifikasi Guru (Sergur).

Perjalanan saya untuk terjaring sergur ini juga tidak muda. Ketika itu saya melihat daftar nama yang terjaring PLPG di website kementerian agama, tercatat nama saya. Namun, kepala madrasah saya menyampaikan jika nama teman saya yang tercatat. Saya menanyakan mengapa saya tidak, padahal di website Kemenag ada nama saya, namun tidak ada jawaban yang pasti.

Saya pun menelusur ke Kemenag kabupaten bagian Pendidikan Madrasah (Pendma), pihak Pendma menyatakan menerima data dari kanwil. Saya mendatangi kanwil, pihak kanwil menyatakan menerima data dari LPTK. Saya pun mendatangi LPTK, ketika itu IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pihak LPTK menyatakan jika data yang diterima berasal dari kabupaten. Saya pun menyerah dan pasrah. Memang bukan rizki saya.

Kecewa. Tidak munafik jika setiap guru khususnya akan merasa senang jika terjaring sergur. Bagimana tidak, hal tersebut merupakan salah satu harapan untuk meningkatkan penghasilan, yang semula hanya beberapa ratus ribu, menjadi 6 digit angka, apalagi saya juga sudah memiliki Sk Inpassing (penyetaraan golongan). 

Saya hanya menangis kecewa, berdoa semoga ada himah dibalik semua ini. Suami pun menguatkan, bahwa rizki itu tidak hanya berupa uang, anak-anak sehat, keluarga adem ayem merupakan bagian dari rizki. Lambat laun saya bisa mengikis kekecewaan saya.

Di tahun 2015, saya resmi menerima surat panggilan untuk mengikuti sertifikasi guru melalui pola Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ( PLPG ) di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang. Sebenarnya saya sudah tidak terlalu berharap, tetapi melihat nama saya ada di lampiran belakang surat panggilan pemberkasan dari Pendma kabupaten, dengan bismillah, saya pun melangkah mengikuti sertifikasi guru tersebut.

Senang namun berat. Senang artinya jika lulus saya mendapat tunjangan yang insyallah lebih banyak dari sebelumnya, artinya saya dapat menabung untuk sekolah anak saya dan membantu suami saya secara finansial. Berat, karena saya harus meninggalkan dua anak saya yang ketika itu berusia 2 th dan 1 th. 

Ayah, Ibu, dan suami menguatkan saya, meyakinkan saya jika anak-anak akan baik-baik saja. Saya bisa melakukan video call kapanpun. Sepuluh hari berpisah dengan mereka yang masih kecil begitu menyesakkan dada. Naluri ibu yang tidak dapat dipungkiri. Bagimanapun keluarga memang tempat yang terbaik.

Tepat pada hari jumat bulan Oktober tahun 2015, entah tanggal berapa, saya pun berangkat mengikuti PLPG di Kota Batu. saya harus fokus dan lulus PLPG. Saya tidak boleh mengecewakan orang rumah. Saya tidak boleh melakukan pengorbanan yang sia-sia. Alhamdulillah, 10 hari terberat dapat saya lalui. Sertfikat pendidik pun saya terima tiga bulan kemudian.

Dengan menyandang predikat guru profesional, saya harus bisa lebih baik, harus bisa lebih total dalam mendidik siswa-siswi saya.


ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 8 Februari 2021


Di SMK

 Perjalanan saya mengajar di SMK sebenarnya hampir bersamaan dengan perjalanan saya di sekolah dasar. Kakak kelas saya di universitas suatu hari ke rumah, dan meminta saya membantu mengajar di sebuah SMK swasta yang baru buka. Ketika itu saya diminta mengajar materi Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI). SMK tersebut baru buka di tahun pertama tahun ajaran 2008/2009. Mempunyai satu jurusan Akuntansi dengan satu rombel. Saya diberi 4 jam pelajaran yang saya isi dalam dua hari.

Tawaran ini saya terima, karena memang jam mengajar saya di SMK diberikan di jam akhir, sekitar pukul 13.00 WIB. Artinya sepulang saya dari madrasah atau dari sekolah dasar, saya bisa melanjutkan ke SMK tersebut. 

Kepala SMK meminta saya untuk membantu secara penuh di SMK. Beliau bertanya, dimana saya menginduk. Karena madrasah tempat pertama saya mengabdi, maka disanalah saya menginduk. Kepala madrasah pun bertindak cepat dengan menguruskan NUPTK saya kala itu.

Tak hanya itu, kepala SMK menawarkan kepada saya untuk menguruskan mutasi NUPTK serta pengajuan sertifikasi guru agar saya mau sepenuhnya di SMK. Saya sampaikan jika saya sudah kuliah lagi di jurusan PGSD. Saya juga beralasan jika saya memilih lokasi yang dekat dengan rumah karena jika nanti memiliki anak, maka saya tidak membutuhkan waktu lama di perjalanan, namun saya akan membantu sepenuhnya di SMK selagi saya mampu.

 Pada akhirnya kepala SMK pun memasrahkan sepenuhnya keputusan kepada saya.

Hari-hari saya terisi dengan kegiatan mengajar di ketiga sekolah tersebut. Saya merasa bersyukur, Allah memberikan kemudahan-kemudahan saya untuk memperoleh penghasilan lebih yang artinya dapat saya gunakan untuk membantu keluarga saya dan sekolah adik-adik saya. Walaupun gaji tersebut tidak seberapa, tidak lebih dari satu juta dalam satu bulan yang saya terima dari ketiga sekolah itu.

Rombongan belajar di SMK ini mulai bertambah di tahun ajaran baru. SMK juga membuka jurusan baru. Artinya jam mengajar saya pun bertambah. Bingung !. disatu sisi saya senang karena mendapat tambahan penghasilan, disisi lain saya bingung karena tidak punya kendaraan untuk mobilisasi ke beberapa sekolah tersebut.

Madrasah tempat saya mengajar dekat dengan tempat tinggal, sehingga saya dapat menempuhnya dengan berjalan kaki. sekolah dasar tempat saya menjadi tenaga administrasi, berada kurang lebih 1,5 km dari tempat tinggal, biasanya saya minta antar ayah atau mencari tumpangan. untuk pulangnya, saya juga mencari tumpangan teman yang searah atau naik bemo.

SMK yang berjarak kurang lebih 6 Km dari tempat tinggal saya, membuat saya lebih sulit dalam menempuhnya. Sulit karena di rumah hanya ada satu motor yang digunakan bergantian dengan ayah, adik, dan saya. Ketika motor tidak terpakai, saya dapat menggunakannya dan lebih mdah untuk berpindah tempat dari satu sekolah ke sekolah lain. Tetapi, ketika tidak ada motor, saya harus berjalan kaki dari madrasah atau sekolah dasar ke jalan raya untuk menunggu bemo. Ya, saya dua kali ganti bemo untuk dapat sampai ke SMK. Terkadang memang ayah mengantar saya, namun tidak setiap hari.

Ketika harus naik bemo, keterlambatan sering saya alami. 5 – 10 menit biasanya saya terlambat tiba. Pernah waka kurikulum memanggil saya, namun karena memang kondisi transportasi dan mengharap saya untuk tetap berada di SMK, beliau memaklumi. Bukan berarti saya tinggi hati karena merasa dimaklumi dengan ketidakdisiplinan saya, namun saya malu, sungkan dan sebaginya.

Ketidakdisiplinan saya berlanjut ketika saya sudah memiliki anak. Anak saya yang kedua sering keluar masuk rumah sakit, hal ini mengharuskan saya untuk membolos dari kewajiban saya di sekolah. Naluri seorang ibu yang tidak bisa saya hindari. Bagaimana bisa saya melaksanakan kewajiban mengajar sementara anak saya opname di rumah sakit.

Entah mengapa, pihak SMK masih memaklumi hal tersebut. Pernah pada suatu hari, saya menyampaikan pengunduran diri saya dari SMK karena ketidakdisiplinan yang saya lakukan, sering terlambat dan tidak masuk. Saya meminta pihak SMK mencari pengganti saya. Namun lagi-lagi, mereka menyadari dan tetap mempertahankan saya.

Mungkin Allah memang meridhoi jalan saya di dunia guru. Kemudahan-kemudahan hidup saya alami. Kebutuhan hidup keluarga pun sedikit banyak terpenuhi walaupun tidak keseluruhan. Saya pun bisa membantu membayar sekolah adik-adik saya. Dengan gaji yang tidak seberapa, namun ada kenyamanan di keluarga membuat saya berfikir, apakah ini yang dinamakan berkah ? Wallahu a’lam  bisshowwab.

ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 7 Februari 2021

Menikah

Keputusan untuk kuliah lagi di UT  sudah bulat. Karena memang sudah saya putuskan untuk terjun dalam dunia pendidikan, totalitas pun harus dilaksanakan . Membaca wacana yang ada, bahwa guru harus linier. Saya putuskan mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). 

Maret 2011 adalah tahun dan bulan dimana saya memulai menempuh kehidupan baru. Tepat pada hari jumat, tanggal 11 maret di rumah sedang ada persiapan walimatul urs. Tetapi dihari itu saya juga harus melakukan registrasi perkuliahan saya di Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik. Tidak ada acara pingitan, karena mengharuskan saya datang untuk melakukan registrasi perkuliahan.

Dengan izin orangtua juga calon suami saya, mereka mendukung. Teriring bismillah dan juga air mata, ditengah hari bahagia saya, namun saya masih berjuang untuk meraih pendidikan (lagi).

Mungkin ini sudah menjadi takdir Allah. Saya berangkat ke Dispendik Gresik dengan dibonceng teman. Kurang fokus, karena disatu sisi saya akan melaksanakan pernikahan, disisi lain daftar perkuliahan ini wajib dan harus jika saya tidak mau kehilangan kesempatan. Mungkin Allah memberikan hikmah terbaik dibalik rencanaNya ini. Saya melangkah dengan bismillah...

Wayang namung nurut dalang, mungkin itu pepatah Jawa yang pernah saya dengar. Saya hanya bisa menjalankan skenario Tuhan. Setelah proses arahan dan registrasi perkuliahan di Dispendik Gresik selesai, saya minta tolong teman saya dan mengajaknya segera pulang. Pukul 17.00 WIB hujan deras pun turun, sangat deras hingga kami terjebak banjir selutut. Teman saya tidak berani melanjutkan perjalanan. Kami berteduh hingga menunggu hujan agak redah. Adzan magrib pun terdengar. Banjir masih selutut, namun hujan berangsur redah. Kami melanjutkan perjalanan.

Alhamdulillah, tepat kumandang adzan isya', saya sampai di rumah. Tamu undangan untuk pembacaan doa walimatul urs sudah berdatangan. Saya baru tiba dengan badan basah kuyup. Hampir semua orang yang ada bertanya, kenapa calon pengantinya kok baru pulang. Malu.. tapi ya bagimana lagi.

Sehabis membersihkan badan, saya pun ikut bergabung dengan keluarga di rumah, membantu persiapan-persiapan yang ada.

Alhamdulillah, acara pembacaan doa pun berjalan lancar. Hujan masih turun rintik-rintik sepanjang malam. Semoga ini bagian dari RahmatMu dalam pernikahanku.. harapan saya dalam doa-doa saya sepanjang malam.

Sabtu pagi yang cerah, seolah Tuhan memberikan jawaban atas doa-doa saya semalam. Menghilangkan kabut hitam yang menyelimuti sepanjang jumat malam. Tepat pukul 09.00 WIB, saya melaksanakan ijab qobul. Tangis pun tidak dapat saya tahan. Saya merasa sudah "lepas" dari orangtua, padahal saya belum bisa membahagiakan mereka, saya belum bisa membalas keringat mereka, teringat perjuangan orangtua dalam mendidik saya dan adik-adik. Mengantar mendaftar kuliah, mengantar seleksi cpns di sipil TNI AL, menunggui saya dari subuh hingga isya', bagaimana susahnya orang tua mencari hutangan ketika saya dan adik-adik saya bersamaan membayar sekolah, semata-mata agar anaknya dapat meraih pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Lebih baik dari orangtuanya yang haya seorang petani kecil.

Sambil mencium punggung tangan, saya hanya bisa meminta maaf. Dalam hati saya berjanji, atas izin Allah semoga saya bisa membahagiakan kedua orangtua dan keluargaku.


ditulis oleh : atik puspita
Gresik, 6 Februari 2021


The Final Note

  Alhamdulillah, sekian kisah dari perjalanan hidup saya menggeluti dunia pendidikan dengan segala asam manisnya tertuang dalam catatan Tant...